7.08.2004

Gambar Oke Film Digital

22 Mei 2004
by Irwan Andri Atmanto
Reporter: Bambang Sulistyo

Dengan kamera video digital, ongkos membuat film bisa irit. Tak perlu kru banyak. Para kru bisa melakukan perekaman secara simultan, mengambil close up, wide shot dan cutaways, tanpa perlu mengulang adegan. Memanfaatkan cahaya alam

LIMA belas menit sudah kameraman muda itu berkeliling Entertainment X'tre kompleks Plaza Indonesia, Jakarta. Sambil menenteng kamera video digital mungil, sang pemuda yang juga merangkap sebagai sutradara itu menyerahkan hasil bidikannya kepada panitia lomba pembuatan film dokumentasi pendek. Ia bersaing dengan dua remaja lain yang Sabtu malam lalu ikutan lomba pembuatan dokumenter 15 menitan.

Lomba yang digelar Sony Indonesia itu sendiri sudah berlangsung sejak Jumat dan berakhir Ahad malam lalu. Waktu pengambilan gambarnya sehari dua kali, sore dan malam, masing-masing tiga peserta. Siapa saja boleh ikutan. ”Tujuannya untuk lebih mengenalkan kamera video digital kepada masyarakat,” kata Heru Hendrawijaya, Manajer Produk Personal Video dan Imaging Sony Indonesia.

Sebagai film dokumenter, hasil bidikan para peserta lomba memang jauh dari kesan lumayan. Wajar saja karena kebanyakan mereka masih amatiran. Tapi kalau melihat kualitas gambar yang dihasilkan cukup lah sebagai sebuah film dokumenter. Kamera video digital selama ini selain dipakai membuat film dokumentasi, juga dipakai dalam pengambilan gambar berita TV dan sinetron atau opera sabun. Pemakaiannya tak berhenti sampai di sini.

Pembuat film layar lebar juga sudah memakai kamera perekam digital. Hasil bidikannya tak kalah bila dibandingkan kamera seluloid. November adalah contoh film yang digarap dengan kamera video digital, yang mengungguli film lain pemakai kamera seluloid. November besutan sutradara Greg Harrison yang banyak memakai cahaya alam, dapat anugerah kualitas gambar paling oke pada Festival Film Sundance, Januari lalu.

Psycho thriller yang dibintangi Courteney Cox – pemeran Monica dalam serial TV Friends— , itu juga jadi gambaran bahwa membuat film berkualitas gambar bagus tak harus dengan biaya selangit. Dengan perekam digital, biaya produksi sebuah film bisa ditekan alias super murah. Pembuat November hanya merogoh fulus dari kocek, US$ 150.000 atau sekitar Rp 1,3 milyar. Bandingkan dengan pembuatan film dengan kamera seluloid yang biasanya menelan ongkos paling murah US$ 1 juta.

November memakai perekam digital DVX 100 keluaran Panasonic – juragan elektronik dari Jepang--. Dengan harganya yang hanya US$ 2500 atau sekitar Rp 21,5 juta, pembuat November bisa menggunakan 15 mini DV itu sekaligus. Keuntungannya, para kru bisa melakukan perekaman secara simultan, mengambil close up, wide shot dan cutaways, tanpa perlu mengulang adegan.

Courteney Cox sendiri tak merasa terganggu dengan model pengambilan gambar dengan kamera secara simultan itu. Dengan cara itu, sama artinya para pemain bisa berakting lebih lama, dan sedikit waktu yang terbuang. Tak heran, pembuatan November hanya perlu 15 hari pengambilan gambar. “Kamu tak bisa lagi bilang, kami memakai kamera pasaran. Ini sudah tampak seperti film pada umumnya,” kata Greg Harrison.

November jadi pelanjut dari Personal Velocity, yang digarap dengan kemera perekam digital, yang memenangkan gelar film dengan kualitas gambar terbagus dalam Sundance Festival 2002. Kameraman Ellen Kuras juga memanfaatkan cahaya alam dalam film yang disutradarai Rebecca Miller itu. Kuras menggunakan kamera video digital Sony PD-150. Semua orang bisa beli kamera itu dan ukurannya juga kecil,” kata Kuras. Rebecca hanya perlu masa 17 hari untuk menyelesaikan film yang diambil dari karya bukunya yang berjudul sama.

Danny Boyle sutradara 28 Days Later merasakan enaknya menggunakan kamera perekam digital kala menggarap film itu. Boyle dan kameraman Anthony Dod Mantle menggunakan Canon XL1. “Kameranya sangat ringan, kompak, fleksibel dan kami bisa membidik banyak adegan dengan sangat sederhana,” kata Boyle. Dengan kamera video digital juga, kata Boyle pembuatan film hanya butuh sedikit awak pendukung. “Sama seperti kalau bikin dokumentasi sebuah acara,” Boyle menambahkan.

Keuntungan lainnya, hanya diperlukan sedikit waktu untuk menata lampu. “Cukup dengan satu lampu saja beres,” katanya. Cahaya lain yang diperlukan bisa diambil dari cahaya alam saat pengambilan adegan. Minimnya peralatan dan kru membuat enak kala harus melakukan adegan di tengah jalan atau keramaian. Cukup minta ijin pada polisi yang bertugas ketika itu, adegan yang diinginkan terlaksana. “Hanya perlu beberapa menit saja,” katanya. Bayangkan bagaimana ribet nya mengatur lampu, dan peralatan lainnya dalam satu adegan di tengah keramaian atau di tengah jalan bila menggunakan kamera seluloid.

Di Indonesia pemakaian kamera video digital juga jadi pilihan. Faozan Rizal, sineas muda yang biasa dipanggil Pao adalah salah satunya. Menurut Pao yang empat karya film pendeknya berhasil menembus Singapura Film Festival tahun 2004 ini, dengan kamera video digital selain lebih murah, proses paska produksi juga sederhana dan cepat.

Seberapa murah sih digital? Pao memberi contoh, harga standar kaset Digital video (DV) durasi 90 menit sekitar Rp 140 ribu, sementara kaset Mini DV Rp 120 ribu. Kalau membesut sebuah film dengan materi seluloid, paling tidak harus disiapkan modal Rp 30-50 juta rupiah perhari untuk sewa perkakas seperti kamera, lampu dan lensa sekaligus. Materi film/seluloidnya berharga Rp.1,5 juta untuk satu can dengan durasi 4 menit (35 mm).

Lalu, hasil syutingan digital bisa langsung di edit di komputer."Lebih singkat karena tidak memerlukan proses kimiawi di lab," kata kata pria kelahiran Tegal, 1973 ini. Sudah tersedia piranti lunak yang menyediakan program editing yang menjurus profesional. Diantaranya adalah AVID DV Express keluaran Amerika, harganya US $ 2000 atau sekitar Rp 17 juta. Bisa juga memakai piranti lunak yang populer dikalangan sineas independen, yakni Final Cut Pro. "Yang terakhir ini malah bisa diinstall di laptop,” kata Pao.

Kalau film dengan kamera seluloid, proses paska produksinya lebih ribet. Hasil syuting diatas materi seluloid itu harus "dicuci" di laboratorium khusus untuk menghasilkan rushcopy. Baru setelah itu masuk proses editing gambar, termasuk sinkronisasinya dengan aspek bunyi atau suara (dialog, ilustrasi musik dan lain sebagainya).

Proses alternatif dari cara konvensional ini adalah "hybrid". Menggunakan materi seluloid, namun paska produksi dilakukan secara digital. Setelah masuk lab, tidak perlu ada printing untuk menghasilkan rush copy, melainkan ditransfer ke materi video dengan menggunakan telesin. Video itu kemudian diedit dan disinkronkan dengan suara dalam sebuah komputer."Tahap berikutnya adalah kine transfer,"jelas Pao yang pernah materi kuliah dari Jean Luc-Goddard saat menuntut ilmu di FEMIS, Prancis ini.

Proses kine transfer belum dapat dilakukan di Indonesia. Digital Magic Studio di Hongkong menjadi salah satu langganan sineas Indonesia. Untuk durasi 90 menit biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 150 juta untuk satu copy. Di Studio Swiss Effect, Swiss, ongkosnya lebih murah, sekitar Rp 120 juta untuk durasi sama, "Tapi ke Swissnya jauh," kilah Pao.

Belum selesai sampai disitu, copy master itu mesti diperbanyak kalau mau diputar di beberapa biskop konvensional sekaligus.Perbanyakannya bisa dilakukan di Indonesia,misalnya di Digital Mitra Lab di Pulo Gadung, "Biayanya sekitar Rp 50 juta percopy untuk durasi 90 menit."kata Pao yang sukses mengemas film "Yasujiro's Journey" dengan metode Hybrid ini.

Kelebihan lain dari kamera video digital adalah ukurannya yang lebih kecil dan ramping sehingga bisa menjangkau angle-angle yang sempit dan sulit. Selain itu, fasilitas atau menu pengoperasiannya lebih lengkap.

Tapi dibanding materi seluloid, produk DV memang punya kelemahan. Salah satunya adalah rendahnya resolusi dan Pixel. Tanpa pendekatan khusus, bukan tidak mungkin gambar jadi pecah-pecah seperti gambar VCD bajakan saat di upgrade untuk keperluan layar lebar.

Solusinya bisa dengan Digital Film Transfer. Teknologi ini secara akurat merubah meta data dari proses editing menjadi format film yang siap putar di bioskop. Sutradara muda Dennis Adhiswara menggunakan cara ini untuk menyempurnakan film "Kwaliteit 2"-nya tempo hari.

Atau kelemahan itu bisa diakali dengan mengoptimalkan kelebihan fasilitas yang terdapat dalam materi dan perkakas digital seperti kamera."Kalau perlu kelemahan itu bisa diangkat sebagai kelebihan."tegas Pao yang kini aktif sebagai staff pengajar di fakultas Film dan Televisi, IKJ ini.

Kelemahan paling dominan adalah sulit mengejar kualitas gambar setajam seluloid. Video digital memilah warna atau nuansa lebih ekstrim dibandingkan seluloid."DV membedakan siang dan malam secara ekstrim, susah memperoleh gambaran langit mendung atau nuansa sore hari."jelas Pao.

Tapi, justru kelemahan DV itu bisa diangkat sebagai kelebihan. Misalnya, saat harus syuting malam hari, DV punya kendala menangkap objek secara tajam. Namun, pada DV biasanya ada fasilitas night shoot, yang jika digunakan akan melahirkan bintik-bintik pada gambar."Untuk membuat film bertema horor, bintik-bintik itu bisa dijadikan efek dramatis."jelas Pao sembari menyebut keberhasilan film horor Blair Witch Projec" sebagai contoh.

Bikin Film? Gampang……
by Irwan Andri Atmanto
Reporter: Bambang Sulistyo

Tak hanya kalangan profesional, orang awam dengan modal kamera video digital di bawah sepuluh jutaandi bawah sepuluh jutaan perak juga bisa membuat film sendiri. Paling tidak, karyanya bisa diputar di komunitas-komunitas film, festival film yang menerima materi DV, atau dikirim ke televisi.

Caranya sederhana. Rancang dan kembangkan isi film dengan berorientasi pada konsep film digital. Setelah itu, jadwalkan waktu pengambilan gambar sesuai kebutuhan-- usahakan seminimal mungkin melakukan pengambilan gambar ulang. Setelah itu, siapkan diri di depan PC atau Laptop untuk melakukan editing.

Kapasitas hard disk yang diperlukan untuk menyokong kinerja piranti lunak AVID DV Express atau Final Cut Pro atau malah Adobe Premiere sangat bergantung pada jumlah materi film hasil syuting. Dosen mata kuliah Editing Fakultas Film dan televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Kusen Dony Hermansyah mengilustrasikan, durasi produk sinetron 30 menit dengan materi ringkas, butuh Hard Disk sekitar 15-20 Giga Byte.

Hasil pengeditan bisa langsung di rekam dalam cakram DVD, dengan catatan PC atau Laptop yang digunakan punya fasilitas DVD writer --pasaran piranti keras ini di pasar harganya sekitar Rp 1 juta an. Sederhana 'kan?

Juragan elektronik asal Jepang antara lain Panasonic, Sony, Sharp dan Hitachi mengeluarkan kamera video digital yang bisa anda gunakan. Panasonic yang menyebut produk kamera video digital dengan nama camcorder menawarkan NV-GS 55 (Rp 5,7 juta), NV GS 120 (Rp 7,6 juta), dan NV GS 200 (Rp 9 juta). “Semua itu sudah dilengkapi dengan 3CCD,” kata Yulian Duce, Manajer Audio National Panasonic Gobel.

CCD kependekan dari charge cuople device berguna untuk menghasilkan warna seperti aslinya. “Dengan 3CCD kualitas gambar yang dihasilkan Panasonic sudah persis dengan aslinya,” kata Yulian. Kamera digital dengan 3CCD ini banyak dipakai untuk kamera video digital gede. Juni nanti, kata Yulian akan muncul lagi seri Panasonic NV-GS terbaru yakni NV-GS 400.

Selain itu kata Yulian, Panasonic juga menyediakan Mega Optic Image Stabilizer (OIS). “Gambar yang dihasilkan akan stabil, karena camcorder nya akan mengikuti gerakan tangan” katanya. Juga dilengkapi chrytal engine yang akan menghilangkan bercak pada pencahayaan yang rendah. Bagi kalangan yang baru mengenal camcorder, kata Yulian Panasonic menyediakan NV-GS 11 (Rp 4,3 juta), NV-GS 15 (4,8 juta) dan NV-GS 33 (Rp 4,8 juta).

Sony yang menyebut kamera video digital nya dengan handycam menyajikan berbagai jenis. “Kami juga lengkapi dengan steady shot yang membuat gambar tak akan bergetar biarpun tangan bergetar,” katanya. Sony membagi produk handycam yang diproduksinya yakni Digital-8, digital Mini DV dan digital Micro DV.

Mini DV keluaran Sony yakni DCR HC 15E (Rp 4,8 juta), DCR HC 30E (Rp 5,7 juta) dan DCR HC40E (Rp 6,7 juta). Sedangkan micro DV nya yakni DCR PC 109E (Rp 8,3 juta) dan DCR PC 330E (Rp 11,9 juta). Sony hanya menggunakan 1CCD untuk semua handycam tersebut. “Dengan satu CCD saja sudah bagus kenapa harus tida CCD,” kata Heru Hendrawijaya, Produk Manajer Personal Video dan Imaging Sony Indonesia.

Belakangan, aplikasi teknologi untuk membuat film dari kamera rumahan sudah dibikin jauh lebih canggih. Prosesnya pun jadi lebih mudah. Sebut saja, Panasonic, yang mengembangkan DVD Video Camera dengan tipe VDR-M70 dan VDR M50. Tipologi dua jenis kamera ini menggunakan cakram DVD sebagai bahan baku (bukan lagi berbentuk kaset). Objek yang ditangkap lewat serangkaian besutan kamera akan direkam dan dipilah-pilah dalam beberapa chapter.

Selesai syuting, DVD yang berisi materi gambar itu bisa langsung diproses di LCD dengan mengendalikan joystick yang ada di tubuh kamera. Gambar-gambar itu bisa dipilih dan dipindahkan sesuai alur yang kita kehendaki. Setelah selesai proses editing sederhana itu, pemberian judul pun bisa dilakukan di kamera."Fasilitasnya sudah tersedia,” kata Faozan Rizal staff pengajar di FFTV IKJ, yang ikut mensosialisasikan kemudahan program ini kepada anak-anak SD Al-Azhar beberapa waktu lalu.

Hasil editing, menurut Pao, bisa langsung di rekam sebuah player Panasonic tipe DMR-E100H. Player ini memiliki fasilitas DVD Writer yang terintegrasi dengan fasilitas-fasilitas pemutar lainnya. Mudah kan?


0 Comments:

Post a Comment

<< Home